Bank Syariah

BANK SYARI’AH

A.    PENDAHULUAN[1]

Keberadaan bank syari’ah dalam sistem perbankan Indonesia sebenarnya telah dikembangkan sejak tahun1992 sejalan dengan diberlakukannya UU No.7 tahun 1992 tentang perbankan. Namun demikian UU No.7 tahun 1992 belum memberikan landasan hukum yang cukup kuat terhadap pengembangan perbankan syariah karena belum secara tegas mengatur mengenai keberadaan bank berdasarkan perinsip syariah, melainkan bank bagi hasil. Pengertian bank bagi hasil yang dimaksudkan dalam UU tersebut belum mencakup secara tepat pengertian bank syariah yang memiliki cakupan yang lebih luas dari bagi hasil. Demikian pula dengan ketentuan operasional, sampai denagan tahun 1998belum terdapat perangkap operasional yang lengkap yang secara khusus mengatur kegiatan usaha bank syariah.

Pemberlakuan UU no.10 tahun 1998 tentang perubaha UU. No 7 tahun 1992 tentang perbankan yang diikuti dengan dikeluarkannya sejumlah ketentuan pelaksanaan dalam bentuk SS Direksi BI telah memberikan landasan hukum yang lebih kkuat dan kesempatan yang lebih luas bagi pengembangan perbankan syariah di Indonesia. Perundang-undangan tersebut memberikan kesempatan yang luas untuk pengembangan jaringan perbangkan syariah antara lain melalui izin pembukaan Kantor Cabang Syariah (KCS) oleh bank umum konvensional. Selain itu UU no. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia juga menugaskan BI mempersiapkan perangkat perarturan dan fasilitas-fasilitas penunjang yang mendukung operasional bank syariah. Kedua UU tersebut diatas menjadi dasar hukum penerapan dual banking system di Indonesia. Dual banking system yang dimaksud adalah terselenggaranya dua sistem perbankan (konvensional dan syariah) secara berdampingan yang pelaksanaannya diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Adapun penjelasan lebih lanjut tentang mekanisme perbankan syariah akan dijelaskan pada bab berikutnya.

 

 

 

B.     PENGERTIAN BANK SYARIAH[2]

Bank berasal dari bahasa italia yaitu banco (berarti bangku atau counter). Bank dalam bahasa arab sepadan dengan kata Mashrif yang berarti pertukaran (exchange). Pengertian bangk syariah secara definitif agak sulit diterjemahkan, adapun dari hasil pengetahuan yang diperoleh Bank Islam dapat diartikan sebagai bank yang tata cara operasinya mengacu kepada al Quran dan Hadits, yaitu menjauhi praktek-praktek maysir, gharar, riba, batihil dan mempraktekkan usaha-usaha yang dilakukan di zaman rosulullah atau bentuk usaha yang telah ada sebelumnya tetapi tidak dilarang oleh belaiu atau ijtihad serta qiyas para ulama yang secara komprehensip telah ditetapkan dalam kitab-kitab fiqh muamalat. Atau Bank syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip syariat islam.

 

C.    SEJARAH BERDIRINYA BANK SYARIAH

Pada zaman pra islam, sebenarnya telah ada bentuk-bentuk perdagangan yang sekarang dikembangkan didunia bisnis modern. Seperti: Musyarokah, Ijarah , Takaful Ba’I Bit Tamanil aji dsb.  Bentuk – bentuk perdagangan tersebut telah berkembang di jazirah arab yang berada dijalur perdagangan antara Asia Afrika – Eropa yang telah dipengaruhi oleh bentuk – bentuk ekonomi Mesir Purba, Yunani Kuno dan Romawi sekitar 2500 SM telah mengenal sistem perbankan. Dengan demikian apabila Islam melarang Riba pada th kurang lebih 2633 tahun kemudian, mak larangan itu tidak hanya ditujukan kepada perorangan tetapi juga kepada lembaganya. Larangan membungakan uang ini tidak hanya terdapat dalam ajaran islam tetapi juga agama-agama samawi lainnya.

Pada masa Rasulullah, Beliau telah memberikan rambu-rambu tentang bentuk-bentuk perdagangan mana yang diperbolehkan dan mana yang dilarang . Salah satu larangan itu adalah larangan usaha yang mengandung riba., dimana ayat tentang larangan riba ini turun menjelang wafat Rasulullah . Sehingga beliau tidak sempat menjelaskan secara rinci tentang riba ini. Karena itulah peranan ijtihad para cendekiawan muslim sangat diharapkan untuk menggali konsep dasar tentang sistem perbankan modern yang sesuai prinsip syariah islam.

Secara kolektif, gagasan berdirinya Bank Islam ditingkat Internasional muncul dalam Konferensi negara-negara islam sedunia, di Kuala Lumpur pada tanggal 21-27 April 1969, yang ikuti oleh 19 negara.

 

C.    DASAR PEMIKIRAN TERBENTUKNYA BANK SYARIAH

Dasar pemikiran terbentuknya Bank Islam bersumber dari adanya larangan Riba dalam Al Qur’an dan Hadits.

Q.S : Al Baqoroh : 275

“ Orang-orang yang memakan riba itu tidak akan berdiri melainkan seperti berdirinya orang-orang yang dirasuk setan dengan terhuyung-huyung karena sentuhannya,………”

Q.S : An Nisa : 161

“ Dan mereka memakan riba, padahal telah dilarang dan karena mereka telah memakan harta manusia dengan cara yang tidak betul, Kami telah sediakan bagi orang-orang kafir itu siksaan yang pedih.

Selain berdasarkan Al Qur’an dan Hadis, berdirinya Bank Islam juga didasari oleh kenyataan – kenyataan sebagai berikut :

  1. Praktek sistem bunga dan akibatnya

Penerapan sistem bunga membawa akibat negatif, antara lain :

  1. masyarakat sebagai nasabah menghadapi ketidakpastian

b.semakin memberatkan nasabah karena dengan penetapan persentase jumlah bunga akan berlipat ganda jika nasabah tidak mampu membayar setelah jatuh tempo.

  1. Mengakibatkan Eksploitasi oleh orang kaya terhadap orang miskin.
  2. Sistem Perbankan yang ada sekarang memiliki kecenderungan terjadinya konsentrasi kekuatan ekonomi ditangan kelompok elite.
  3. Sistem perbankan yang menerapkan bunga menimbulkan laju inflasi yang semakin tinggi
  4. Sistem perbankan yang menerapkan bunga sekarang dirasakan kurang berhasil dalam membantu mengurangi kemiskinan dan pemerataan pendapatan baik tingkat nasional ataupun internasional.

5.Dengan beroperasinya Perbankan Syariah diharapkan mempunyai pengaruh yang besar terhadap terwujudnya suatu sistem ekonomi yang islam.

  1. Didirikannya bank Islam dilatarbelakangi oleh keinginan umat Islam untuk memperoleh kesejahteraan lahirdan batin melalui kegiatan muamalah yang sesuai dengan perintah agamanya.
  2. Didirikannya bank Islam dilatarbelakangi oleh keinginan umat Islam untuk mempunyai alternatif pilihan dalam mempergunakan jasa-jasa perbankan yang dirasakannya lebih sesuai.

Prinsip Pokok Bank Syariah sebagai berikut:

  1. Pelarangan riba dalam segala bentuknya
  2. Pelarangan transaksi yang diharamkan
  3. Pelarangan transaksi yang mengandung unsur ghoror dan maisir
  4. Pelarangan transaksi yang mengakibatkan kerusakan moral dan lingkungan

 

D.   TUJUAN BANK SYARIAH

1.Mengarahkan kegiatan ekonomi umat unuk bermuamalah secara islam agar terhindar dari praktek riba.

2.Menciptakan suatu keadilan dibidang ekonomi dengan jalan meratakan pendapatan melalui kegiatan investasi.

3.Meningkatkan kualitas ekonomi hidup umat dengan membuka peluang usaha terutama bagi kelompok miskin.

4.Membantu mengentaskan kemiskinan.

5.Menjaga kestabilan ekonomi /moneter pemerintah.

6.Menyelamatkan ketergantungan umat islam terhadap Bank –Bank non Islam

 

E.   CIRI-CIRI BANK SYARIAH

  1. Pengunaan presentasi dalam hal kewajiban untuk melakukan pembayaran selalu dihindarkan
  2. Didalam pembiayaan proyek, Bank Syariah tidak menerapkan perhitungan berdasarkan keuntungan yang pasti yang diterapkan dimuka.
  3. Pengerahan dana masyarakat dalam bentuk Deposito/tabungan, oleh penyimpan dianggap sebagai titipan, sedangkan bagi bank dianggap titipan yang diamanatkan sebagai penyertaan dan pada proyek-proyek yang dibiayai Banksehingga kepada penyimpan tidak dijanjikan imbalan yang pasti.
  4. Bank syariah tidak menerapkan jual beli atau sewa menyewa dengan mata uang yang sama.
  5. Adanya pos pendapatan berupa “ Rekening Pendapatan Non Halal”, yang biasanya digunakan untuk menyantuni orang –orang miskin.
  6. Adanya Pengawas Syariah yang bertugas mengawasi jalannya Bank- Bank Syariah
  7. Produk-Produk Bank Syariah selalu menggunakan istilah Arab,
  8. Adanya Kredit khusus tanpa beban, dimana nasabah tidak ada kewajiban untuk mengembalikannya.
  9. Fungsi Kelembagaan bank selain menjembatani antara pihak pemilik modal degan yang membuuhkan dana, juga mempunyai fungsi khusus yaitu menjaga amanah.
F.  FUNGSI DAN PERAN BANK SYARIAH[3]

1.Manajer Investasi

Bank berfungsi sebagai penghimpun dana dengan menggunakan prinsip wadiah dan mudlurobah.

2.Investor

Bank berfungsi sebagai penyaluran dana yaitu dalam prinsip jual beli (murabahah, salam, istisna) dan prinsip bagi hasil (mudlorobah dan musyarokah).

3.Penyedia jasa keuangan dalam lalu lintas perbankan

Produk jasa yang diberikan diantaranya adalah wakalah, kafalah, sharf, qardh, hawalah dan rahn.

4.Pelaksana kegiatan social

Bank berfungsi menghimpun dan menyalurkan qardhul hasan serta penghimpunan dan penyaluran ZIS.

 

G. PRODUK BANK SYARIAH

Produk dan jasa perbankan syariah secara garis besar dibagi tiga yaitu; penghimpunan, penyaluran dan menyediakan jasa keungan. Dalam menerangkan produk bank syariah ini, kami mengambil sepenuhnya dari produk dan jasa yang telah ada di bank Muamalat Indonesia.

1. Produk Penghimpunan Dana

A. Simpanan

1. Tabungan Ummat

Merupakan jenis simpanan dana pihak ketiga pada Bank Muamalat dalam mata uang rupiah dimana penyetoran dan penarikannya dapat dilakukan setiap saat sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Bank Muamalat. Turunan dari Tabungan Ummat dapat disesuaikan dengan jenis tabungan yang diminati nasabah, antara lain :

a. Tabungan Ummat Co-Branding
Merupakan tabungan yang khusus diperuntukkan bagi nasabah perorangan yang terhimpun dalam suatu kelompok. Anggota kelompok tersebut dapat membuka tabungan di Bank Muamalat dan memperoleh kartu ATM dengan design khusus yang pada sisi depannya tercetak logo bersama Bank Muamalat dan kelompok yang bersangkutan.

b. Tabungan Ummat Trendi
Merupakan tabungan yang khusus diperuntukkan bagi pelajar dan mahasiswa dengan batasan usia maksimum 26 tahun. Penabung akan memperoleh kartu ATM dengan design khusus.

c. Tabungan Ummat Ukhuwah
Merupakan tabungan yang khusus diperuntukkan bagi nasabah Bank Muamalat yang ingin melakukan pembayaran zakat, infaq dan shadaqah melalui Dompet Dhuafa Republika. Penabung akan memperoleh kartu ATM dengan design khusus.

d. Tabungan Ummat B-Card
Merupakan tabungan yang khusus diperuntukkan bagi nasabah Bank Muamalat yang ingin melakukan pembayaran zakat, infaq dan shadaqah melalui Baitulmaal Muamalat. Penabung akan memperoleh kartu ATM dengan design khusus.

2. TABUNGAN HAJI ARAFAH.

Merupakan jenis simpanan dana pihak ketiga pada Bank Muamalat dalam mata uang rupiah bagi nasabah Bank Muamalat yang berniat untuk melaksanakan ibadah haji secara terencana sesuai dengan kemampuan dan jangka waktu yang dikehendaki ( tersedia pilihan jangka waktu 1 – 10 tahun ).

Keistimewaan Tabungan Haji Arafah

Menguntungkan
Memperoleh bagi hasil yang nisbahnya ditambahkan kepada sejumlah saldo Tabungan Arafah. Semakin matang persiapan perjalanan haji Anda karena direncanakan jauh ssbeleumnya, semakin ringan biaya yang akan dibayarkan.

Terencana
Tahun keberangkatan dan besarnya setoran tabungan dapat direncanakan sesuai kemampuan

Terjamin
Bank Muamalat on-line dengan Siskohat Departemen Agama, sehingga memberi kepastian mendapat quota/porsi keberangkatan haji

Aman
Memperoleh perlindungan Asuransi Syariah yang memberi jaminan terpenuhinya BPIH kepada Ahli Waris, khusus untuk nasabah yang memiliki saldo efektif minimal lima juta rupiah.

3. Giro Wadiah.
Merupakan titipan dana pihak ketiga yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan media cek, bilyet giro dan sarana pemindahbukuan.

4. Deposito Mudharabah.
Merupakan investasi pihak ketiga di Bank Muamalat dalam mata uang rupiah maupun USD dengan jangka waktu tertentu yang diperuntukkan bagi nasabah perorangan, perusahaan, yayasan , koperasi dan lembaga berbadan hukum lainnya, untuk dikelola secara syariah dan memperoleh bagi hasil.Deposito Mudharabah dapat diperpanjang secara otomatis (ARO) serta dapat digunakan sebagai jaminan pembiayaan atau untuk mendapatkan referensi Bank.

5. Deposito Fulinves.

Merupakan investasi pihak ketiga di Bank Muamalat dalam mata uang rupiah maupun USD dengan jangka waktu 6 bulan dan 12 bulan, yang diperuntukkan bagi nasabah perorangan, perusahaan, yayasan, koperasi dan lembaga berbadan hukum lainnya, untuk dikelola secara syariah dan memperoleh bagi hasil.Deposito Fulinves dapat diperpanjang secara otomatis (ARO) serta dapat digunakan sebagai jaminan pembiayaan atau untuk mendapatkan referensi Bank. Deposito Fulinves dalam valuta rupiah senilai di atas dua juta rupiah memperoleh fasilitas asuransi jiwa senilai jumlah deposito dan/atau maksimal lima puluh juta rupiah.Sementara Deposito Fulinves dalam valuta USD senilai USD 500memperoleh fasilitas asuransi jiwa senilai jumlah deposito dan/atau maksimal sebesar lima puluh juta rupiah setelah dikurskan ke valuta rupiah.

 

2. PRODUK PENYALURAN DANA

Sesuai dengan dasar operasionalnya yakni syariah Islam, maka produk-produk pembiayaan yang dapat disediakan Bank Muamalat Indonesia kepada para calon nasabah pun harus sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Ada 2 (dua) metode pembiayaan yang diterapkan di Bank Muamalat, yaitu metode pembiayaan dengan skema jual beli termasuk sewa-beli dan pembiayaan dengan skema bagi hasil. Skema pembiayaan jual beli terdiri dari murabahah, salam, istishna’ dan pembiayaan sewa beli yaitu ijarah muntahiyyah bi tamlik. Sedangkan pembiayaan dengan metode bagi hasil juga mempunyai 2 (dua) produk yaitu Musyarakah dan Mudharabah termasuk Mudharabah Muqayyadah (restricted investment). Bagan Metode, Produk dan tujuan penggunaan pembiayaan di Bank Muamalat di sajikan berikut ini :

No. Metode Pembiayaan Produk Aplikasi Pembiayaan
1. Jual Beli a. Murabahah Modal kerja seasonal/project atau investasi
b. Salam Modal kerja atau investasi terutama untuk produk-rpoduk pertanian
c. Istishna’

Modal kerja atau investasi, terutama project dengan

pembayaran per termin

2. Sewa Beli Ijarah Investasi (fixed asset)
3. Bagi Hasil a. Mudharabah Modal Kerja atau Investasi
b. Musyarakah Modal Kerja atau Investasi

Terdapat 3 kategori penyaluran dana berdasarkan tujuan penggunaannya, yaitu :

  1. Pembiayaan untuk memiliki barang dengan prinsip jual beli (buyu) terdiri diri:

a.Pembiayaan Murabahah

Pembiayaan Murabahah adalah pembiayaan dengan sistem jual beli, dimana bank membiayai pembelian barang yang dibutuhkan nasabah. Harga jual kepada nasabah adalah sebesar harga pokok barang ditambah marjin keuntungan yang disepakati antara bank dengannasabah.
Pembiayaan Murabahah tunduk pada kaidah dan hukum umum jual beli yang berlaku dalam muamalah Islamiah, terutama rukun jual beli yaitu harus ada barang yang diperjual belikan dengan ketetapan harga yang disepakati bersama. Ketentuan-ketentuan tersebut secara tegas terdapat dalam Al Qur’an (QS: An Nisaa’ (4) : 29), Sunnah, maupun Ijma.

Teknis pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

1. Istishna

Akad jual beli antara nasabah dan bank, dimana kebutuhan barang nasabah teresebut dilakukan berdasarkan pesanan (order/barang belum jadi) dengan kriteria tertentu seperti jenis, tipe atau model, kualitas dan jumlah barangnya. Bank memesan barang pesanan nasabah kepada produsen sesuai dengan perjanjian yang mengikat. Setelah barang sudah jadi maka bank menjual barang tersebut kepada nasabah dengan kesepakatan yang ditentukan sebelumnya.

2. Salam

Pembelian dengan pembayaran dimuka atas hasil produksi pertanian dengan kriteria tertentu dari petani (nasabah I) dan dijual kembali kepada pihak lain (nasabah II) yang membutuhkan dengan jangka waktu pengiriman yang ditetapkan bersama. Sebelum membeli hasil pertanian dari nasabah I, bank terlebih dahulu telah menawarkan kepada nasabah kedua untuk membeli hasil pertanian dari nasabah I dan ketetapan harga pembelian dan penjualan disepakati bersama antara nasabah I dan nasabah II.
Menurut jumhur ulama, Ishtisna’ sama dengan Salam yaitu dari segi obyek pesanannya harus dibuat atau dipesan terlebih dahulu dengan ciri-ciri khusus. Perbedaannya hanya terletak pada sistem pembayarannya, Salam pembayaran dilakukan sebelum barang diterima, sedangkan Istishna’ dilakukan setelah barang diterima.

Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk mendapatkan jasa dilakukan dengan prinsip sewa, yaitu :

1. IjarahMuntahiyyahBittamlik
Perjanjian antara bank sebagai lessor (yang menyewakan sesuatu/barang) dengan nasabah sebagai penyewanya (lessee). Penyewa setuju akan membayar uang sewa selama masa sewa yang diperjanjikan dan pada akhir sewa, terjadi pemindahan hak kepemilikan dari bank kepada penyewa.

Pembiayaan untuk usaha kerjasama yang ditujukan guna mendapatkan sekaligus barang dan jasa dengan prinsip bagi hasil. Terdiri dari :

A.Musyarakah

Kerjasama perkongsian dana yang dilakukan oleh dua atau lebih anggota perkongsian dalam suatu usaha yang dijalankan oleh pelaksana usaha. Dimana pembagian keuntungan dibagikan sesuai dengan kesepakatan bersama. Pelaksana usaha itu boleh dilakukan oleh salah satu dari masing-masing anggota penyerta dana atau boleh juga pihak lain yang disepakati bersama. Dalam pembiayaan ini,pemilik dana boleh melakukan intervensi manajemen dalam usaha tersebut.

B.Mudharabah

Pembiayaan Mudharabah (pembiayaan bagi hasil) adalah pembiayaan dimana bank (sebagai Shahibul-mal) menyediakan modal dan nasabah (sebagai mudharib) mengelola/mengusahakan modal tersebut.

Selanjutnya antara bank dan nasabah akan berbagi hasil atas pendapatan nasabah dalam mengelola usahanya dengan porsi yang telah disepakati bersama. Bila terjadi kerugian, maka kerugian dalam bentuk uang akan ditanggung oleh bank, sedangkan nasabah akan menanggung kerugian dalam bentuk kehilangan usaha, nama baik (reputasi), dan waktu.

Pengembangan dari skim mudharabah adalah mudharabah muqayyadah (restricted invesment). Dalam mudharabah muqayyadah deposan mensyaratkan, dananya hanya untuk membiayai proyek tertentu. Bank akan mencarikan proyek yang dimaksud, dan mempertemukannya dengan deposan tersebut. Bank dalam hal ini akan mendapatkan fee atas jasa administrasi dan collection yang dilakukan.
Skema Pembiayaan Mudharabah

Pembiayaan Mudharabah dapat digunakan untuk pembiayaan investasi dan modal kerja pada semua sektor usaha, terutama untuk mengakomodasi kebutuhan dana pada sektor usaha yang tidak dapat dibiayai dengan skema pembiayaan jual beli ( Murabahah), karena tidak ada barang yang dapat diperjual belikan.

Pembiayaan kerjasama antara bank sebagai shahibul maal/pemilik dana dengan nasabah sebagai pelaksana usaha (mudharib). Proyek /Usaha tersebut adalah suatu usaha yang produktif lagi halal. Pembagian hasil keuntungan dari proyek/usaha dilakukan sesuai nisbah yang disepakati bersama.

 

3. JASA PERBANKAN

Bank Syariah dapat melakukan berbagai pelayanan jasa perbankan kepada nasabah yaitu :

1.Rahn
Rahn artinya tetap, kekal, dan jaminan. Menurut beberapa mazhab Rahn berarti: perjanjian penyerahan harta yang dijadikan pemiliknya sebagai jaminan hutang yang nantinya dapat dijadikan sebagai pembayar hak piutang tersebut, baik seluruhnya maupun sebagiannya. Penyerahan jaminan tersebut tidak harus bersifat aktual (berwujud), namun yang terlebih penting penyerahan itu bersifat legal misalnya berupa penyerahan sertifikat atau surat bukti kepemilikan yang sah suatu harta jaminan. Menurut mazhab Syafi`i dan Hanbali, harta yang dijadikan jaminan tersebut tidak termasuk manfaatnya.
(inti sari dari Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 5 Hal. 1480 – 1483)
Barang-barang yang dijadikan sebagai Rahn adalah barang yang berharga atau mempunyai nilai ekonomis serta dapat disimpan/bertahan lama, umpamanya emas perhiasan atau emas batangan dan kendaraan.

2.Qardh
Qardh adalah pinjaman yang diberikan kepada peminjam (muqtaridh) selama waktu tertentu dan dikembalikan dalam jumlah yang sama pada saat jatuh tempo.

3.Hawalah
Hawalah atau disebut juga Hiwalah berasal dari kata tahwil yang berarti intiqal (perpindahan, pengalihan). Secara muamalahnya Hawalah/Hiwalah adalah perpindahan hak atau kewajiban yang dilakukan pihak pertama (muhil) kepada pihak kedua (muhal ‘alaih) untuk menuntut pembayaran hutang dari dari/atau membayar hutang kepada pihak ketiga (muhal), (i) karena pihak ketiga berhutang kepada pihak pertama dan pihak pertama berhutang kepada pihak kedua.(ii) atau karena pihak pertama berhutang kepada pihak ketiga disebabkan pihak kedua berhutang kepada pihak pertama. Perpindahan itu dimaksudkan sebagai ganti pembayaran yang ditegaskan dalam akad ataupun tidak, dan didasarkan kesepakatan bersama.

(Ensiklopedia Hukum Islam, jilid II hal. 559-563, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1997, hal. 559)

4.Wakalah
Wakalah menurut bahasa artinya Tafwidh yaitu penyerahan = pendelegasian = pemberian mandat. Dalam muamalah berarti pendelegasian suatu tindakan hukum dan hak kepada orang lain yang bertindak sebagai wakil selama batas waktu yang ditentukan.

(intisari Fiqih Sunnah Jilid 13 hal 56-57, Sayyid Sabiq dan Ensiklopedi Hukum Islam Jilid 6 hal 1911, Ichtiar Baru Van Hoeve Jakarta)

 

5. FASILITAS

Praktis dengan Kartu Ummat

Kartu Ummat merupakan kartu multi akses dari Bank Muamalat. Dengan mempergunakan kartu Ummat di tangan, banyak kemudahan yang dapat diraih :

Jaringan ATM Muamalat
Anda dapat melakukan transaksi tunai dengan mudah di seluruh kantor cabang Bank Muamalat di seluruh Indonesia. Tak perlu antri di Bank, Kartu Ummat dengan jaringannya akan membantu anda setiap saat.

Transaksi non-tunai dapat pula diakses melalui ATM Muamalat seperti memonitor saldo rekening dan menggunakan menu pembayaran berupa pemindahbukuan antar rekening di Bank Muamalat, pembayaran tagihan rekening telepon TELKOM secara online, pembayaran premi Asuransi Takaful, pembayaran iuran Dana Pensiun Muamalat serta pembayaran Zakat, Infaq dan Shadaqah. Atas penggunaan fasilitas-fasilitas tersebut di atas nasabah tidak dikenakan biaya.

Jaringan ATM Bersama
Jaringan ATM Bersama dapat diakses oleh nasabah Bank Muamalat untuk melakukan transaksi tarik tunai. Selain nasabah Bank Muamalat, nasabah bank lain yang menjadi anggota jaringan ATM Bersama pun dapat mengakses kartu ATM nya melalui terminal ATM Muamalat. Nasabah akan dikenakan biaya transaksi sebesar Rp. 2.300,- untuk setiap transaksi tarik tunai

Jaringan ATM BCA
Jaringan ATM BCA dapat diakses oleh nasabah Bank Muamalat untuk melakukan transaksi tarik tunai dan pengecekan saldo. Nasabah akan dikenakan biaya transaksi sebesar Rp. 3.000,- untuk setiap transaksi tarik tunai dan Rp. 2.000,- untuk setiap transaksi pengecekan saldo.

Dengan total sebanyak 2.180 terminal ATM BCA dan 1.080 terminal ATM Bersama di seluruh Indonesia yang tersebar di berbagai lokasi (Rumah Sakit, Pusat Perbelanjaan, Pasar, Universitas, Sekolah, Perkantoran dan Lokasi cabang BCA) maka diharapkan nasabah pemegang Kartu Ummat tidak kesulitan dalam mengakses rekeningnya untuk bertransaksi di ATM dimanapun di Indonesia selama 24 jam.

DebitCard Muamalat
Kartu Ummat dapat pula berfungsi sebagai kartu debet multiguna yang dikenal dengan nama DebitCard Muamalat. Melalui fasilitas ini nasabah dapat melakukan berbagai transaksi pembelanjaan dan pembayaran di merchant yang bertanda logo Debit BCA yang difasilitasi oleh lebih dari 18.000 terminal EDC (Electronic Data Capture) milik BCA di seluruh Indonesia. Batas pembelanjaan yang dapat dilakukan adalah sebesar Rp. 3.000.000,- per hari dan atas setiap transaksi yang dilakukan akan dikenakan biaya transaksi sebesar Rp. 3.000,- per transaksi.

Merupakan jasa layanan telepon 24 jam yang memberikan kemudahan kepada nasabah Bank Muamalat untuk memperoleh akses yang bersifat manajemen rekening seperti monitor saldo, informasi lima transaksi terakhir dan penggantian PIN, atau informatif seperti, informasi profil perusahaan, informasi produk, layanan, dan jaringan Bank Muamalat atau transaksional seperti pemindahbukuan antar rekening di Bank Muamalat, pembayaran tagihan rekening telepon Telkom secara online, pembayaran premi Asuransi Takaful, pembayaran iuran Dana Pensiun Muamalat serta pembayaran Zakat, Infaq dan Shadaqah.

 

H.                PROSPEK  BANK SYARIAH

Prospek perbankan syariah akan lebih komperhensif apabila kita coba uraikan berdasarkan analisa SWOT yang telah menjadi referensi akademis yang banyai diterapkan para peneliti dan praktisi. Uraian di bawah ini merupakan argumen yang digali dari kondisi perbankn dan masyarakat dewasa ini.

a.   Keunggulan (strength) Bank Syariah[4]

1.Kuatnya ikatan emosional keagamaan antara pemegang saham, pengelola bank dan nasabahnya.

2.Adanya keterikatan secara religi, maka semua pihak yang terlibat dalam bank syariah akan berusaha sebaik-baiknya sebagai pengamalan ajaran agamanya sehingga berapapun hasil yang diperoleh diyakini membawa berkah.

3.Adanya fasilitas pembiayaan (mudharabah dan musyarokah) yang tidak membebani nasabah sejak awal dengan kewajiban membayar biaya secara tetap.

4.Diterapkannya bagi hasil sebagai pengganti bunga maka tidak diskriminasi terhadap nasabah yang didasarkan atas kemampuan ekonominya sehingga aksesibilitas bank syariah menjadi sangat luas.

5.Adanya sistem bagi hasil maka untuk penyimpanan dana telah tersedia peringatan dini tentang keadaaan banknya yang bisa diketahui sewaktu-waktu dari naik turunnya jumlah bagi hasil yang diterima.

6.Adanya fasilitas pembiayaan pengadaan barang modal dan peralatan produksi (murabahah dan bai bitsaman ajil) yang lebih mengutamakan kelayakan usaha daripada jaminan sehingga siapapun baik pengusaha atau bukan mempunyai kesempatan yang luas untuk berusaha.

7.Adanya sistem bagi hasil maka cost push inflation yang ditimbulkan oleh perbankan sistem bunga dihapuskan sama sekali.

8.Adanya sistem bagi hasil dan ditinggalkannya sistem bunga menjadikan bank Islam lebih mandiri dari pengaruh gejolak moneter baik dari dalam maupun luar negeri.

9.Adanya sistem bagi hasil maka persaingan antar bank Islam berlaku secara wajar yang ditentukan oleh keberhasilan dalam membina nasabah dengan professionalisme dan pelayanan yang terbaik.

  1. Tersedianya fasilitas kredit (al-qordhul hasan) yang tidak membebani nasabah dengan biaya apapun kecuali biaya yang dipergunakannya sendiri
  2. Konsep dengan berorientasi pada kebersamaan dalam hal :
  3. Mendorong kegiatan investasi dan mengahambat simpanan yang tak berproduktif
  4. Memerangi kemiskinan dengan membina ekonomi yang lemahmelalui bantuan hibah.
  5. Mengembangkan produksi , menggalakkan perdagangan.
  6. Meratakan pendapatan melalui bagi hasil dan kerugian.
  7. Sebagai alternatif terhadap ekonomi yang berkeadilan.

b.        Kelemahan (weaknesses) bank syariah[5]

1.Apabila ada nasabah yang “nakal” selain merugikan, Bank akan kesulitan untuk memberikan sanksi,karena didalam Bank islam tidak ada bunga,denda kelambatan dsb. Sehingga Bank harus menguatkan fungsi pengawasannya.

2.Sistem bagi hasil menuntut tingkat profesional yang tinggi bagi pengelola Bank untuk membuat perhitungan yang cermat. Karena perolehan bagi hasil bergantung pada keberhasilan nasabah.

3.Semakin berbondong-bondongnya umat islam memanfaatkan fasilitas Bank Islam, sementara belum tersedianya proyek-proyek yang bisa dibiayai sebagai akibat kurangnya tenaga – tenag profesional yang siap pakai, maka Bank Islam akan menghadapi “ kelebihan likuiditas”

4.Salah satu misi Bank Islam adalah mengentaskan kemiskinan, dimana sebagian besar kantong-kantong kemiskinan adalah dipedesaan , maka Bank Islam harus nasabah sebesar-besarnya dipedesaan. Masalah yang dihadapinya a/l :

a. Benturan dengan sistem nilai dan tradisi masyarakat desa yang masih memilih menyimpan uang dibawah bantal.

b.Tingkat pendidikan dan keterampilan masyarakat pedesaan relatif lebih rendah.

5.Dari pengalaman praktek-praktek Bank Islam di luar negri menunjukan bahwa meskipun        Bank islam berorientasi pada masyarakat bawah, namun Bank islam memiliki kecenderungan untuk mendapat proyek yang benar-benar bonafid. Dan ini berarti yang berhasil mendapat fasilitas kredit adalah kelompok kuat.

6.Apabila Bank Islam telah memilih komitmennya kepada kelompok lemah . maka jangan sampai terjebak dengan kecenderungan pada point (5)

 

  1. Peluang (opportunities) bank syariah

Peluang untuk pengembangan bank syariah berdasarkan penelitian IPB, UNDIP, dan Unibraw pada Desember 2000 menunjukkan potensi yang besar dari aspek preferensi masyarakat terhadap pengguna jasa keuangan bank syariah. Informasi yang dimiliki mengenai keberadaan bank syariah relatif tinggi, namun pemahaman terhadap keunikan sistem, produk dan jasa bank syariah secara umum masih relatif rendah.Namun harus disadari bahwa potensi minat masyarakattergantung pula pada kinerja perbankan syariah, seperti kualitas pelayanan dan tingkat profitabilitas. Selain itu, keberhasilan bank-bank syariah dalam mempromosikan sistem ini kepada semua lapisan masyarakat sangat menentukan minat masyarakat untuk bermitra dengan bank syariah.

 

d. Tantangan (Threats) bank syariah

Tantangan yang dihadapi oleh bank syariah adalah terkait dengan pencepatan pemulihan kondisi perekonomian dan perbankan dari gejolak krisis yang telah mendera sejak pertengahan tahun 1997. Upaya pengembangan akan sedikit trhambat karena industri perbankan sebagai penggerak ekonomi belum dari krisis sehingga mempengaruhi pula minat investor untuk memasuki sektor perbankan. Demikian pul dengan kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat seiring dengan semakin derasnya arus informasi tentang kegiatan usaha bank syariah membutuhkan jarngan kantor yang semakin luas. Kenyataan sekarang masih terbatas sekali jaringan kantor yang melakukan kegiatan usaha bank syariah. Tantangan lain adlah upaya meningkatkan kualitas produk dan jasa bank syariah yang dapat mengikuti perkembangan teknologi modern. Secara kelembagaan masih perlu ditingkatkan lagi dukungan dan pemberdayaan institusi lainnya yang memiliki peranan yang cukup penting Departemen Keuangan dan Dewan Pengawas Syariah (DPS).

 

H.  PERBEDAAN    ANTARA     BANK      SYARIAH     DENGAN        BANK  KONVENSIONAL[6]

Dalam beberapa hal, Bank Konvensional dan Bank Syariah memiliki kesamaan terutama dalam sisi teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, tekhnologi komputer yang digunakan, syarat umum memperoleh pembiayaan dsb. Akan terdapat banyak perbedaan yang mendasar antara keduanya:

  1. Akad dan Aspek Legalitas

Setiap akad dalam perbankan syariah, baik dalam hal barang, pelaku atau ketentuan lainnya harus memenuhi ketentuan akad a/l: rukun dan syarat-syaranya.

  1. Lembaga Penyelesaian sengketa

Pada Perbankan syariah, jika terdapat perselisihan antara nasabah dengan Bank maka diselesaikan dengan tata cara dan hukum syariah oleh Lembaga yang mengaturnya di Indonesia adalah BAMUI

  1. Struktur Organisasi

*Dalam Perbankan Syariah diharuskan adanya Dewan Pengawas Syariah yang bertugas :

1.Mengawasi jalannya operasionalnya Bank sehari-hari agar selalu sesuai dengan ketentuan syariah.

  1. Meneliti dan merekomendasi produk baru dari bank yang diawasinya

*Adanya Dewan Syariah Nasional

Fungsi DSN adalah:

  • mengawasi produk-produk lembaga keuangan syariah agar sesuai dengan syariah termasuk Bank Syariah, Asuransi Syariah, Reksadana, Modal Ventura dsb.
  • Meneliti dan menfatwa bagi produk-produk yang dikembangkan oleh lembaga keuangan syariah
  • Memberikan rekomendasi para ulama yang ditugaskan sebagai Dewan Syariah Nasional pada lembaga keuangan syariah
  • Memberi teguran kepada lembaga keuangan syariah jika lembaga itu melakukan penyimpangan.

Penting pula untuk mendapatkan gambaran mengenai perbedaan pokok antara bank syariah dengan bank konvensional adalah sebagai berikut:

  Bank Syariah Bank Konvensional
Struktur Organisasi Dewan Pengawas Syariah Tidak ada
Hubungan bank dengan nasabah Kerjasama investasi, Penjual-pembeli, Penyewa-pengguna, Penyedia jasa-penerima jasa. Kreditur-Debitur (penyedia jasa-penerima jasa)
Sistem pendapatan Bagi hasil, Marjin, Fee Bunga, Fee
Penyaluran dana Halal dan maslahat Investasi umum
Akuntansi Laporan keuangan AAOIFI Laporan keuangan IAS

 

Perbedaan Imbalan yang berdasarkan Bunga dan Bagi Hasil[7]

Bunga

Bagi Hasil

a. Penentuan bunga dibuat pada waktu akad tanpa berpedoman pada untung rugi Penentuan besarnya rasio bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi
b. Besarnya presentasi berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan. Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh
c. Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi Bagi hasil tergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan sekiranya itu tidak mendapatkan keuntungan maka kerugian akan ditanggung bersma oleh kedua pihak
d. Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang “booming” Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan.
e. Eksistensi bunga diragukan (kalau tidak dikecam) oleh semua agama termaksud Islam Tidak ada yang meragukan keabsahan keuntungan bagi hasil

 

 

  1. I.       PERKEMBANGAN PERBANKAN SYARIAH

Bank Muamalatlah yang merupakan bank pertama di Indonesia yang direkomendasi secara resmi kepada masyarakat sebagai bank syariah. Bank ini beroperasi berdasarkan Surat Izin Menteri Keuangan, mengacu kepada Undang-Undang No.7 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 1992.

Berdirinya bank Muamalat itu lalu didikuti dengan pendirian bank-bank perkreditan rakyat syariah (BPRS). Dua tahun kemudian atas peran Bank Muamalat kemudian didirikan pula sebuah asuransi Islam dengan nama Asuransi Takaful, dimana Bank Muamalat merupakan salah satu pemegang sahamnya. Lalu melalui kerjasama MUI dan ICMI melahirkan ribuan lembaga mikro keuangn syariah yang disebut Baitul Maal wa Tamwil (BMT) yang tersebar di seluruh Indonesia. Pada tahun 1997, Bank Muamalat mensponsori lokakarya tentang reksadana syariah.

Masyarakat masih memandang perbankan syariah dengan persepsi konvensional, hal ini merupakan hambatan bagi proses sosialisasi sistem perbankan syariah. Masyarakat rasional yang bermotivasi komersial menuntut keuntungan dari bank syariah dengan menggunakan parameter konvensional. Akibatnya untuk memacu pertumbuhannya manajemen bank syariah  harus mampu lebih unggul dibandingkan dengan sistem perbankan konvensional.[8]

 

  1. KESIMPULAN DAN PENUTUP

Secara kelembagaan bank syariah adalah lembaga intermediasi dan penyedia jasa keuangan. fungsi bank syariah akan berjalan dengan sehat dan efektif apabila memiliki kontribusi yang besar dalam pembiayaan sektor riil, menunjukkan kinerja yang fositif, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bank syariah sebagai lembaga intermediasi dan jasa keuangan syariah memilliki ciri pokok yaitu; menerima investasi dana, melakukan investasi dana, dan menyediakan jasa keuangan yang seluruh mekanismenya wajib berdasarkan syariah atau setidak-tidaknya tidak bertentangan dengan syariah.

 

 

 

K. DAFTAR PUSTAKA

  1. Arifin, Zainul;Memahami Bank Syariah Lingkup, Peluang ,Tantangan dan Prospek;Alvabet;Jakarta;2000
  2. Zulkifli, Sunarto;Panduan Praktis Transaksi Perbankan Syariah;Zikrul Hakim;Juli;2003
  3. Harahap, Sofyan Syafri;Akuntansi Islam;Bumi Aksara;Jakarta;November;1999

5.  Perwataatmadja,Karnaen & Antonio, Muhammad Syafii;Apa dan bagaimana Bank Islam, Dana Bhakti Prima Yasa, Yogyakarta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Seminar mekanisme dan prospek perbankan syariah, Dhani Gunawan Idat SH, MBA. 27 September 2002

[2] seminar syariah Islam, fiqh muamalat dan perbankan syriah, an-Nu’man Cupriadi, muamalat institute, Mei 2003

[3]   Tim Pengembangan Perbankan Syariah Institute Bankir Indonesia, Konsep, produk dan implementasi operasional bank syariah, Djambatan, hal:24

[4]   Karnaen Perwataatmadja & Muh. Syafi’I Antonio, Apa dan bagaimana Bank Islam, Dana Bhakti Prima Yasa, Yogyakarta, hal:47-48

[5]

[6]

[7]  Karnaen Perwataatmadja & Muh. Syafi’I Antonio, op.cit, hal: 52

[8]  Zainul Arifin, Memahami Bank Syariah Lingkup, Peluang, Tantangan dan Prospek, Alvabet, Jakarta, hal:208-210

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s