Kekuatan Pendidikan Berpegas Nyata Hingga Tak Berberat Emas

Kekuatan Pendidikan Berpegas Nyata Hingga Tak Berberat Emas

Laksana Balon Yang Terlepas Tanpa Ikatan

Oleh : Abdurahman

Sekapur Sirih

            Dalam sebuah mimpi terkadang terbesit sebuah bintang nyata yang diharapkan akan mampu menyinari satu titah emas terancang dalam pikiran. Terkadang juga, dalam sembari angan, terlintas kata akselerasi diri dengan tempo yang indah untuk menyapa itu semua. Namun memang lintasan tak akan selalu selurus dengan aspal yang menyaut. Terkadang liku-liku dan ketidaksempurnaan pemerataan yang bergejolak tersendiri dalam dimensinya.

————————————————————————————————————

Kata, kalimat, frase, untaian kalimat, semuanya itu begitu indah dilantunkan dan dituliskan ketika The Power of Word berdimensi berdasarkan maslahah-nya. Kekuatan itu tercermin dalam perwujudan sebuah cakrawala pengetahuan yang terakumulasi dalam deretan titah pembelajaran. Tentu saja ketika berbicara tentang pembelajaran, kata ini sering berafiliasi dengan kata “Pendidikan” yang merupakan integral dari proses itu sendiri. Namun pernahkah anda berfikir, mengapa sebuah pembelajaran mencuat ibarat sebuah fardhu  yang nyata bagi manusia?

Notabennya, ketika manusia yang secara hierarki telah diberi rancang bangun yang luar biasa yaitu  sebuah“Akal”, hal ini justru menjadi perbincangan menarik bagi kalangan manusia bahwa apakah mereka akan membiarkan hal yang super duper itu terkumuh dalam kebimbangan yang nyata?. Tentu ada pola pikir tersendiri bahwa akal memang secara garis besar ibarat tubuh yang selalu membutuhkan makanan. Allah SWT sendiri terlebih dahulu memprinsipkan manusia untuk dapat menggunakan akal sebagaimana mestinya. Allah SWT berfirman :

إِنَّ فىِ خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضِ وَ اخْتِلَافِ الَّيْلِ وَ النَّهَارِ وَ الْفُلْكِ الَّتىِ تجَْرِى فىِ الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتهَِا وَ بَثَّ فِيهَا مِن كُلّ‏ِ دَابَّةٍ وَ تَصْرِيفِ الرِّيَحِ وَ السَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَ الْأَرْضِ لاََيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُون‏

“Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi; dan pertukaran malam dan siang; dan (pada) kapal-kapal yang belayar di laut dengan membawa benda-benda yang bermanfaat kepada manusia; demikian juga (pada) air hujan yang Allah turunkan dari langit lalu Allah hidupkan dengannya tumbuh-tumbuhan di bumi sesudah matinya, serta Ia biakkan padanya dari berbagai-bagai jenis binatang; demikian juga (pada) peredaran angin dan awan yang tunduk (kepada kuasa Allah) terapung-apung di antara langit dengan bumi; sesungguhnya ada tanda-tanda (yang membuktikan keesaan Allah, kekuasaanNya, kebijaksanaanNya, dan keluasan rahmatNya) bagi kaum yang menggunakan akal fikiran (liqaumiy ya’qiluun)”. (QS. Al-Baqarah:164)

Tentunya hakekat manusia ialah peka dalam memanfaatkan akal yang mereka miliki. Dan juga dengan berafiliasi pada acuan tersebut, manusia seolah sudah terprinsip pada dirinya untuk berseru dalam mengembangkan ilmu yang terorbit secara bebas di bumi ini. Hal ini melatarbelakangi timbulnya konsep belajar yang pada akhirnya konsep belajar yang terintegrasi pun diistilahkan dengan nama pendidikan (education).

Di Indonesia sendiri, masa orientasi dalam rajutan goresan kisah pendidikan sudah bermula dari masa kerajaan sampai ke bentuk realisasi nyatanya yang terpampang dalam garisan masa penjajahan. Dalam pijaran perkembangannya, telah lahir kelompok pahlawan yang berperan penting menumbuh-asakan semangat pemikiran untuk menjadi insani yang cerdas, segelintir diantaranya seperti Soetomo, R.A. Kartini, Ki Hajar Dewantara, Moh. Hatta, Kyai haji Agus Salim, Tiga Serangkai dan masih banyak lagi. Mereka tertuntut untuk mengubah haluan Negara Indonesia yang terbelengu menjadi negara yang berbobot dengan kader masyarakat yang ber-knowledge tinggi. Tidak salah memang ketika pendidikan mulai mencuat ke permukaan, para masyarakat pada saat itu berbondong-bondong mencari jati diri dengan mengaktualisasikan diri dalam dunia pendidikan. Namun apa dikata, sedikit terluka, tapi rasa sakit menyapa luas. Tidak banyak yang berhasil untuk meraih sebuah pendidikan, tetapi tidak sedikit juga yang gagal bahkan hingga jiwa lepas dari badan hanya untuk meraih itu semua.

Konteks pendidikan pada masa itu ialah sangat urgen dan bermakna tinggi. Sehingga tidak dipungkiri bahwa ketika ada kesempatan untuk menjalani pendidikan, para pemuda pada saat itu bersungguh-sungguh dalam menjalaninya. Itulah sebabnya, ilmu yang diperoleh tidak tanggung-tanggung, bahkan ilmu tersebut mampu mengilhami mereka sehingga dapat berkontribusi dalam memerdekakan Negeri Ibu pertiwi serta berafiliasi dengan merdunya sampai sekarang ini.

Namun, ketika dibandingkan dengan pendidikan masa tempo dulu dengan sekarang ibarat botol yang telah diisi penuh terurai karena lubang kecil yang menganga. Secara konseptual, prestasi pendidikan di Indonesia dibilang cukup menggembirakan bahkan telah mencapai level kemajuan. Ini terbukti dengan sistem pendidikan yang telah terstrukturisasi sehingga lahir pengembangan kurikulum pembelajaran bagi para aktivis pendidikan. Bahkan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Ir. H. Mohammad Nuh, DEA telah mencanangkan untuk mulai menggagas kurikulum baru secara bertahap mulai 15 Juli mendatang. Ini sebuah pembaharuan pendidikan yang notabennya baik dalam pengembangan pendidikan. Dan  dilihat secara kasat mata, pendidikan seolah telah didorong ke arah maksimumnya untuk mencapai pendidikan yang sebenarnya. Namun, tatkala sebuah pendidikan dikatakan maju secara konsepnya, maka pemikiran umum akan fokus pada hal yang fisik saja. Tapi pernahkah terbesit bahwa apabila dilihat dari sisi kontekstual, Pendidikan di Indonesia sekarang ibarat rumah yang bersisi indah namun rapuh didalamnya.

Sebenarnya pendidikan di Indonesia kini sedang mengalami kondisi fluktuasi yang kehilangan makna hierarki sebenarnya. Dalam organ-organ fungsinya, pendidikan berjalan dengan penuh kendali oleh sistem yang dianutnya, terkontrol dan terintegrasi secara kontinuitas dan stabil. Namun, jiwa pendidikan yang dirasakan kini masih terombang-ambing tak jelas maknanya. Dari sisi ruhiyah pendidikan, masih belum dapat diserasikan dengan makna pendidikan yang benar. Orang-orang terdahulu memang belum mengenal konsep canggih untuk menangani sebuah pendidikan. Yang mereka tahu hanyalah bagaimana menjalani dan meraih cucuran ilmu dari pendidikan yang ada. Tetapi, yang didapat bukan bahan mentah yang tak terproses, melainkan sebuah bobot pemahaman yang benar dan alamiah yang dapat menjiwai para penikmatnya. Sehingga, tidak sedikit yang berhasil pada saat itu. Namun, sekarang pendidikan telah hilang pesonanya. Para penyampai ilmu sudah banyak lebih condong untuk melepas tangan dibanding menata tangan, ilmu tersaji begitu instan, praktis, dan singkat (yang sulit dimengerti), belum lagi banyak para penikmat pendidikan yang belum beruntung untuk mencicipi tautan sebuah pendidikan.

Tentu siswa/i, mahasiswa/i sudah merasakan keanehan pendidikan di zaman sekarang. Tentu bukan hal yang asing jika kita duduk dikelas menuggu guru/dosen dan ternyata yang diterima hanya seruan membuat PR yang kita tidak tahu apa konteksnya. Memang kurikulum telah mengatur bahwa pembelajaran sendiri menjadi pedoman para penikmat pendidikan. Namun, ketika dilihat dilapangan sebuah keironisan bahwa bukan kelebihan yang didapat melainkan sebuah kegalauan yang berujung pada buruknya kualitas dan kuantitas sebuah output.

Problema memang kalut di kalangan yang merasakan namun tak terasakan ke permukaan. Sebuah drama yang tentu akan terus bermain dengan lancarnya sampai ada sutradara yang mau menghentikannya. Ini memang sebuah fakta yang menggerus sebagian penikmat pendidikan di Indonesia. Tentu kata “Pembenahan” akan muncul di obsesi kita, sebuah perubahan yang harus dibenahi secara menyeluruh bukan hanya dari segi konseptual tetapi secara kontekstual juga, karena yang lebih membuat pendidikan kuat ialah makna pendidikan itu sendiri. Memang benar kita perlu belajar dari kakek, nenek, ayah, ibu kita pada eranya. Melihat pendidikan dengan compang-camping pada masa itu tetapi dapat mengorbit dengan tingginya, maka sebuah pendidikan dapat kuat pondasinya, indah tatanannya, tepat sasarannya dengan belajar memaknai sebuah jiwa pendidikan yang secara hierarki benar dalam penerapannya. Dan ketika kekuatan pendidikan dapat kita formulasikan dengan baiknya, maka pada akhirnya kita akan mendapatkan sebuah pencahayaan terang yang melintas dalam dimensi mencerdaskan Bangsa Indonesia itu sendiri.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s